Entri yang Diunggulkan

#5 Urban Legend : Square

“SQUARE” (SEGI EMPAT) Alkisah, lima orang pendaki gunung tersesat di tengah pegunungan bersalju (versi lain cerita mengatakan mereka mer...

Jumat, 22 Desember 2017

#2. Daily Blog - Hezkia's Blog : Travelling Holidays?

22 dec 2k17

  Everything's got messed up. Ke bali, bisa santai pinggir pantai, dapat jaringan bagus luar nabire, spending my time with faedah things :v

   That's just dreams boy! Ke bali? Duit mana duit? Santai pinggir pantai? Ke kali saja jarang. Jaringan bagus? Oh no comment. Faedah things, hal berfaedah apa saja yang bisa dilakukan di nabire selain isap aibon? :"v

   Libur kali ini sa sempat berpikir "whoa this holidays gonna be great af!!!" . Tapi ternyata sa salah. Semua yang sa harap tuh berbalik 180 × 150° :v

   Dari hari ke hari cuma itu saja yang terjadi tra ada yang berubah. Kalo sa mau bikin list, mungkin akan kek begini

✔Bangun jam 8
✔Kerjakan hal yang unfaedah
✔Duduk dikasir smpe jam 9 malam
✔Pulang
✔Tidur

   What r u thinking?! Im get bored every fuckin' days?!

   Tapi, dibalik semua itu, ada beberapa point yang bikin sa betah selama libur disini.

✔Presiden datang ke kota kami :)
✔Cuaca hujan. (U knw lah, rain bath) :v
✔Calon anak yang buang uang 40k cuma buat beli semir spray sekali pake
✔AndOtherReason :v

   Trda hal berfaedah bukan berarti ko harus doing nothing tiap harinya. Masih banyak hal keren yang sedikit berfaedah kalo ko mau dan punya niat untuk lakukan. Contoh?

✖Isap lem. Ah, im messed up :v
✔Selama ini sa bantu toko, alhasil dapet duwit bossquh :v
✔Bantu ko mama kah siapa kah

   Intinya hal berfaedah itu selalu ada selama ko mau lakukan.

Sebenarnya, 1 tahun ini banyak skli sa pu pengalaman yang kalo sa tulis mungkin bisa ngakak kalo sa baca bbrp tahun kedepan. So, ya, mungkin sa bakal tulis lagi di akhir 2017 nanti.

   Bai :)

Minggu, 24 September 2017

#1. Daily Blog - Hezkia's Blog : Ketika semua hujatan datang.

24-09-2k17 

Blog sampah, content blog copy paste doang, isinya kotoran semua, sekolah dulu baru nge blog.



   Itu semua jawaban dari orang orang bahkan teman teman yang sa minta jawabannya. Memang benar, ini blog isinya copast, wong cuma copast doang isinya apa yang mau dibaca? Ia kan?. Tujuan gw bikin blog juga cuma krna iseng kok. Bukan bikin blog dengan Djiwa soemangat 45 kok.

   Lagipula itu sudah setahun. Blog ini mungkin akan ubah image yang tadinya dimata orang ini blog sampah dengan isi copast urban legend, menjadi blog receh harian si penulis. Fucked up! :"v.

   Salahkah kalau anak smp nge-blog? Nggak kan? Fine fine aja kan? Selama sa ga paksa buat baca blog ini. Gak akan ada masalah.

  Misalkan nanti ada yang tanya "ngapain bikin daily blog? Kan ada youtube dengan daily vlog? Lebay juga gausah nge-blog". Wew, memangnya sa nge-blog buat memper'alay' diri? Wtf!!

  Cuma ada beberapa alasan simple yang bisa dijadiin alasan kenapa sa mau nge-blog dan kenapa harus " blog"

1.) BTC(Bukan tukang curhat).
Kenapa? Ada masalah? Sa bukan orang yang suka curhat apalagi sampe nangis nangis ga karuan. Lebih baik luapkan semua disini. Salah? Blog blog saya kok. Terserah sa lah mau sa apakan blog ini juga bukan urusanmu. Urusanmu itu hanya baca dan hujat *eh :"v

2.) Remembering moment.
Ya, karena setiap hari bisa saja ada hal hal asik yang kalo diingat bisa bikin ngakak sendiri.

3.) Showing the real "me".
Kalo kalian pernah lihat sa di dunia nyata itu lucu,humoris(bedanya apa njer),dll. Mungkin disini kalian akan lihat sa dengan kepribadian yang berbeda. Mungkin.

4.) Low budget.
Alasan kenapa ga pilih youtube dan kenapa nge-blog adalah. Ya krna sa cuma mau hv fun! Dan tulis keseharian. Sedangkan alasan umum orang nge-youtube itu sebagai sarana untuk berkarya. Hari harimu karya? Kecuali kalo ko Justin Bieber boleh. Gada yang mau urusin hidupmu! Apalagi kalo divideo kan. Iuw :"v

Capekk. Ini mungkin belum masuk dari bagian blog. Tapi hargailah penulis. Kalo mau baca aja! Gosah protes!

Ga deng, bercanda :"v

Minggu, 18 Desember 2016

#9 Urban Legend : Little Brother

LITTLE BROTHER

ADIK KECIL

Aku memiliki adik kecil bernama Arthur, namun aku sangat membencinya! Dia sangat manja dan orang tuaku lebih menyayanginya daripada aku.

Siang itu aku mendorongnya ke dalam kolam. Ia membuat suara “Blurp blurp” yang lucu. Namun ayah dan ibuku yang melihatnya langsung panik. Mereka langsung mengangkatnya dari air dan segera memanggil dokter. Ibu sangat lega ketika dokter mengatakan adikku tidak apa2. Ayahku kemudian bertanya pada Arthur mengapa ia bisa terjatuh ke kolam. Aku sempat khawatir, takut jika Arthur mengadukanku. Ternyata benar. Arthur mengatakan akulah yang mendorongnya. Aku sangat takut, namun ayahku ternyata membelaku. Ia terlihat sangat marah dan mengatakan padanya untuk berhenti mengatakan hal seperti itu. Akupun lega, namun itu membuatku makin membenci Arthur. Dasar tulang adu!

Malam itu ia meminta kue dengan selai sebelum tidur kepada ibu. Biasanya ibu takkan memberikannya, namun kali ini Arthur mendapatkan apa yang ia inginkan. Mungkin karena ibu kasihan dengannya atas apa yang terjadi siang ini. Aku lalu meminta kue yang sama kepada ibu, namun ia hanya berpura2 tidak mendengarku. Apa ibu curiga kalau benar aku yang mendorong Arthur ke kolam.

Dulu kedua orang tuaku tak pernah membedakan kami. Jika Arthur mendapat mainan baru, aku juga. Jika Arthur mendapat makanan, aku juga. Namun segalanya berubah sejak sebulan ini. Tiba2 saja mereka mencurahkan segala kasih sayangnya kepada Arthur. Dia menjadi besar kepala gara2 itu. Ia minta ini itu dan orang tuaku selalu memenuhinya. Sedangkan kepadaku sebaliknya. Mereka benar2 acuh tak acuh kepadaku.

Aku kerap bertanya2, mengapa ini terjadi? Apa karena aku sudah besar sehingga mereka tak menganggapku lucu lagi? Aku pernah menanyakan hal itu pada Arthur, namun ia malah mengatakan hal2 yang kejam. Aku main membencinya! Apalagi ia selalu menolak bermain denganku.

Namun perlakuan mereka pagi ini benar2 sudah keterlaluan. Mereka hendak berlibur ke pantai dan mereka hanya mengajak Arthur. Mereka tak mengajakku.

Aku benar2 membenci mereka sekarang! Dan aku lebih membenci Arthur.

Karena itu, aku menunggu malam tiba. Ketika orang tuaku sibuk menonton televisi di bawah, diam2 aku merangkak ke kamar Arthur yang sedang tertidur. Aku akan mengendap-endap di samping tempat tidurnya dan menekankan bantal ke wajahnya.

Ya, hingga ia tak bernapas lagi.

Sekarang mereka takkan bisa mengajak Arthur ke pantai.

Setelah semuanya usai, aku akan kembali merangkak ke bawah, ke kotak sempit mengerikan yang mereka buat untukku.

#8 Urban Legend : Nature Photograpgher

Salah seorang temanku adalah seorang fotografer alam. Entah kenapa, padahal ia adalah gadis yang sangat cantik, namun ia tertarik dengan alam liar. Suatu hari ia berencana mengambil foto di tengah hutan. Untuk itu, ia mempersiapkan tenda dan berbagai keperluan lain untuk kemping semalam di hutan itu.

Banyak teman2nya, termasuk aku, khawatir. Namun ia mengatakan ia tak apa2. Ia sudah sering kemping sendirian. Kamipun merelakannya, sebab kami tahu ia gadis pemberani dan bisa menjaga dirinya sendiri.

Ia sangat menikmati perjalanannya di dalam hutan. Di sana ia memotret pohon, bunga, serta berbagai satwa liar yang bebas di habitat aslinya. Ia berhasil mengumpulkan 400 foto dan akhirnya setelah lelah, di penghujung hari ia tertidur lelap di tendanya, sendirian.

Ketika pulang ke kota, iapun mengecek semua hasil fotonya di laptop. Di antara ke-400 foto yang ia kumpulkan, ia melihat sesuatu yang sangat, sangat aneh dan membuat bulu kuduknya berdiri.

Ada 4 foto yang baginya sangat menakutkan sehingga hingga kini ia mengalami trauma dan tak berani lagi untuk bermalam di hutan sendirian.

Keempat foto itu adalah foto dirinya sedang tertidur pulas di dalam tenda.

Sabtu, 17 Desember 2016

#7 Urban Legend : Wristband

Di Korea, terdapat peraturan yang berlaku di semua rumah sakit. Ketika pasien masih hidup, gelang berwarna putih diikatkan di lengan kanan mereka. Gela ngitu berisi nama pasien serta informasi lainnya. Namun ketika pasien meninggal, gelang itu dilepas dan digantikan dengan sebuah gelang merah yang diikatkan di lengan kiri sebelum jenazahnya dibawa ke kamar mayat.

Kisah ini terjadi pada seorang dokter yang sedang shift malam di sebuah rumah sakit.

Ia akhirnya menyelesaikan shift malamnya pukul 2 dini hari dan merasa sangat lelah. Rumah sakit tampak sangat sepi sebab pada jam 2 dini hari, tentu semua pasien sedang terlelap dan sebagian besar perawat juga telah pulang.

Ia menyalakan lift dari lantai lima untuk turun ke basement, dimana mobilnya diparkir. Di dalam lift hanya tampak seorang wanita tua.

Ia berdiri di samping wanita tua itu, yang tampaknya juga ingin turun di basement.

Begitu lift mereka sampai di basement, pintu lift terbuka dan tampak seorang pria berpakaian putih.

Wanita yang tadi bersamanya hendak keluar dari lift.

Dokter itu melihat sesuatu di tangan pria itu. Segera ia menarik wanita yang tadi bersamanya kembali ke dalam lift. Dengan panik ia menekan tombol ke lantai lima dan pintu lift pun tertutup.

“Hei, ada apa denganmu?” wanita itu tampak marah karena dokter itu menariknya masuk kembali.

“Anda beruntung saya tadi tidak membiarkan anda keluar.” Ujar dokter itu. “Anda tidak melihat, di tangan kiri pria tadi ada gelang merah? Berarti dia sudah meninggal!”

“Gelang merah?” tanya wanita itu sambil menunjukkan tangan kirinya.

“Maksudmu seperti ini?”

THE END

#6 Urban Story : Keyhole

Seorang pria datang ke sebuah hotel. Ketika check in, sang resepsionis memperingatkannya,

“Tolong jangan masuk ke kamar yang tak ada nomornya.”

Pria itu mengangguk dan segera mencari kamarnya yang bernomor 10. Saat itulah, ia melihat sebuah kamar tanpa nomor yang tadi dikatakan sang resepsionis. Karena penasaran, ia mengintip melalui lubang kunci untuk melihat apa isinya.

Ia hanya melihat seorang wanita tua berwajah pucat sedang duduk di tengah ruangan. Aneh sekali, seakan-akan seluruh kulit tubuh wanita itu berwarna putih, tidak seperti kulit manusia kebanyakan.

Tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan menatapnya.

Karena ketakutan, iapun segera lari ke kamarnya.

Malamnya ia tak bisa tidur. Ia masih penasaran mengapa resepsionis itu memperingatkannya untuk menjauhi kamar itu. Dan mengapa pula kamar itu tidak diberi nomor?

Saking penasarannya, saat itu juga ia bangkit dari tempat tidurnya, mengendap-ngendap di lorong hotel, dan mengintip kamar itu sekali lagi melalui lubang kunci.

Namun yang ia lihat hanyalah warna merah.

Pria itu berpikir, mungkin wanita itu merasa terganggu karena ia tadi mengintipnya dan memutuskan untuk menutup lubang kunci dengan sesuatu yang berwarna merah.

Pria itupun kembali ke kamarnya untuk tidur.

Keesokan harinya saat akan check out, pria itu menanyakan mengapa kamar yang ia lihat kemarin tidak diberi nomor.

Resepsionis itupun bercerita dengan wajah sedih.

“Dahulu ada sepasang suami istri yang menginap di kamar itu. Suatu hari mereka bertengkar dan sang suami membunuh istrinya itu. Sejak kejadian itu, kami tak berani menyewakan kamar itu, jadi kami mencopot nomornya dan membiarkannya kosong.”

Pria itu pergi dan tertawa. Ia sama sekali tak percaya dengan cerita hantu. Yang ia lihat kemarin jelas-jelas manusia dan bukan hantu.

“Oya,” sang respsionis berkata ketika pria itu hampir sampai di ambang pintu.

“Wanita itu tidak seperti manusia kebanyakan. Ia menderita kelainan genetik sehingga seluruh kulit tubuhnya putih.”

Langkah pria itu terhenti.

Sang resepsionis mengakhiri ceritanya.

“Dan matanya merah.”

THE END

#5 Urban Legend : Square

“SQUARE”

(SEGI EMPAT)

Alkisah, lima orang pendaki gunung tersesat di tengah pegunungan bersalju (versi lain cerita mengatakan mereka merupakan korban selamat dari suatu kecelakaan pesawat). Karena tidak kuat, salah satu dari kelima pendaki itu akhirnya meninggal. Namun keempat temannya yang lain menolak meninggalkan jenazah teman mereka di tengah gunung dan memutuskan membawanya.

Hingga suatu saat di tengah badai salju, mereka menemukan sebuah pondok kayu.

Mereka bersyukur dan segera berlindung di dalam pondok kayu itu. Pondok itu berbentuk segiempat. Pondok itu tampak sudah tua, namun masih kokoh.

Celakanya, sama sekali tak ada penerangan di dalam pondok itu, sehingga mereka terpaksa menghabiskan malam dalam kondisi gelap gulita.

Mereka meletakkan jenazah teman mereka di tengah ruangan yang berbentuk segi empat itu.

Mereka mulai bercakap-cakap.

“Malam ini kita tidak boleh tidur. Bila kita tidur, bisa-bisa kita tidak bangun lagi.”

“Ya, aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Bila kita tidak melakukan sesuatu, kita pasti akan tertidur.”

“Aku tahu, kita lakukan saja suatu permainan.” Usul salah satu teman mereka, masih dalam kondisi gelap gulita. Mereka sama sekali tak bisa melihat satu sama lain, jadi mereka tak tahu dengan siapa mereka berbicara dan siapa yang mengusulkan permainan itu.

“Permainan apa?”

“Begini, ruangan ini kan berbentuk kotak. Bagaimana jika masing-masing dari kita berempat berdiri di tiap pojok ruangan. Nah, saat permainan dimulai, salah satu dari kita berlari ke pojok ruangan terdekat dan menepuk punggung temannya yang ada di situ. Lalu ia yang ditepuk punggungnya harus berlari lagi untuk menepuk punggung temannya yang ada di pojok terdekat dengannya. Begitu terus hingga kembali ke orang pertama dan diteruskan sampai fajar tiba.”

“Itu ide bagus,” semua orang tampaknya setuju, “Dengan begitu kita akan bergerak semalaman dan tubuh kita akan terasa hangat.”

Akhirnya mereka melakukan permainan itu. Masing-masing dari mereka, sebut saja A, B, C, dan D berdiri di pojok ruangan. A mulai berlari ke B dan menepuk pundak B. B kemudian langsung berlari dan menepuk pundak C. C lalu berlari menepuk pundak D. Dan begitu seterusnya, mereka melakukan permainan itu hingga pagi.

Saat pagi tiba, mereka mulai merasa lega. Cahaya mulai menerangi seluruh ruangan sehingga mereka bisa melihat seisi ruangan. Salah satu teman mereka rupanya mengenali tempat ini dan tahu jalan keluar dari tempat itu.

Namun saat mereka menyadari bentuk ruangan yang mereka tempati sejak semalam, mereka mulai sadar ada yang tidak benar.

Lalu mereka mulai ketakutan.

Permainan itu ternyata tak sesimpel yang mereka duga.

Permainan dimulai ketika A berlari dan menepuk pundak B. B kemudian berlari menepuk pundak C. Lalu C berlari menepuk pundak D. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika D berlari ke A, semestinya tak ada orang di sana, sebab A sudah berada di B. Benar bukan? Sehingga D harus berlari 2 kali agar dapat menepuk pundak A.

Namun saat mereka bermain, tak ada seorang pesertapun yang harus berlari dua kali.

Saat tiba di A, D menepuk pundak seseorang yang kemudian berlari menepuk pundak A yang sedang berada di B.

Merekapun sadar, permainan ini walaupun dilakukan di ruangan berbentuk segi empat, tak bisa dilakukan oleh empat orang.

Permainan ini harus dilakukan oleh lima orang.

Namun mereka hanya ada berempat saat mereka melakukan permainan itu.

Lalu mereka menatap jenazah teman mereka yang terbujur kaku di tengah ruangan.

Ya, mereka tak hanya berempat di dalam ruangan.

Mereka berlima.